beritaku24.com – Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat kini menggeber pembahasan RUU kawasan industri.
Yang mereka tekankan: konsep link and match. Bukan hanya bangun pabrik dan jalan saja.
RUU ini di maksudkan menghubungkan tiga hal sekaligus—dunia industri, pendidikan, dan ketenagakerjaan.
Menurut mereka, itu kunci kalau ingin kawasan industri benar‑benar kuat dan kompetitif di masa depan.
Dalam pandangan legislator, pembangunan kawasan industri selama ini terlalu fokus pada infrastruktur fisik.
Padahal, koneksi yang kuat antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja juga penting. Itu yang sering terlihat kurang pas.
Mereka bilang, tanpa link and match, lulusan sekolah atau pelatihan kerja banyak yang tidak sesuai dengan yang di cari industri. Harus ada jembatan. Kurikulum yang selaras. Biar apa yang dipelajari di kelas atau pelatihan bisa langsung relevan di lapangan kerja.
DPR juga tak mau jalan sendiri. Mereka mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, dan pelaku industri duduk bersama.
Kolaborasi lintas sektor di nilai perlu. Biar kebijakan ini tidak hanya bagus di kertas, tapi nyata manfaatnya di lapangan.
Termasuk soal penciptaan lapangan kerja. Itu jadi sorotan utama.
RUU ini juga tidak hanya soal tenaga kerja. Ada yang lebih luas.
Perhatian juga di arahkan pada tata kelola kawasan, kepastian hukum, dan kelestarian lingkungan.
Regulasi yang komprehensif, kata mereka, bisa dorong investasi. Tapi bukan investasi yang seenaknya menghancurkan lingkungan. Harus ada keseimbangan antara pengembangan ekonomi dan perlindungan alam.
Pembahasan RUU ini masih harus lewat mekanisme legislasi yang panjang.
Targetnya, aturan ini bisa jadi pijakan kuat buat pengembangan kawasan industri. Yang adaptif, terintegrasi.
Dan tentu saja relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional ke depan.
