Jokowi Hadiri Kirab Budaya PSI di Tegal

Jokowi Hadiri Kirab Budaya PSI di Tegal

beritaku24.com – Tegal siang itu tidak seperti biasanya. Jalanan yang biasanya riuh oleh lalu lintas mendadak berubah jadi lautan manusia. Di bawah terik yang cukup menyengat, warga berdiri berjejer, sebagian mengangkat ponsel tinggi-tinggi, sebagian lagi sekadar ingin melihat dari dekat satu sosok yang mereka kenal betul: Joko Widodo.

Presiden ke-7 RI itu hadir di kirab budaya yang di gelar Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bukan sekadar datang, lalu duduk dan menyaksikan. Ia turun, berjalan menyusuri rute kirab, menyapa orang-orang yang sejak pagi sudah menunggu. Ada yang melambaikan tangan. Ada yang memanggil namanya. Ada pula yang, tanpa sungkan, menerobos sedikit demi sedikit demi bisa bersalaman atau sekadar mengabadikan momen lewat swafoto.

Kirab itu sendiri tampil meriah. Barisan peserta mengenakan busana tradisional dengan warna-warna mencolok. Ada penari dengan gerak yang tegas, ada iringan musik khas daerah yang berdentum tidak terlalu keras tapi cukup membuat suasana terasa hidup. Kesenian lokal di tampilkan apa adanya—tanpa polesan berlebihan—dan justru di situlah daya tariknya. Ini bukan panggung besar berlampu sorot. Ini jalan kota, dengan warga sebagai penonton sekaligus bagian dari peristiwa.

Jokowi terlihat beberapa kali berhenti. Menyalami anak kecil. Mengangguk pada orang tua yang menyapanya. Sesekali tersenyum lebar, seperti yang kerap terekam kamera. Ia berjalan bersama rombongan, mengikuti alur acara yang sudah di susun panitia. Tapi di lapangan, suasana tak pernah sepenuhnya bisa di atur. Antusiasme warga membuat jarak antara pejabat dan masyarakat terasa tipis, nyaris hilang.

Bagi PSI, kegiatan ini bukan hanya perayaan budaya. Mereka menyebutnya sebagai agenda kebudayaan sekaligus ajang silaturahmi dengan masyarakat. Ada pesan yang ingin di sampaikan: politik tak melulu soal rapat dan pidato, tapi juga soal hadir di tengah warga, di ruang yang lebih cair. Entah itu di baca sebagai strategi, simbol, atau sekadar perayaan, yang jelas kirab itu berhasil mengumpulkan banyak orang di satu ruang yang sama.

Aparat keamanan tampak berjaga di sejumlah titik. Tidak mencolok, tapi sigap. Arus warga diatur, rombongan di jaga agar tetap bergerak. Sampai acara usai, situasi di laporkan berjalan aman dan kondusif. Tidak ada insiden berarti. Hanya keramaian, tawa, teriakan memanggil nama presiden, dan deretan kostum tradisional yang bergerak perlahan di bawah langit Tegal.

Kirab budaya PSI di Kota Tegal itu, pada akhirnya, menjadi pertemuan tiga hal sekaligus: seni, masyarakat, dan figur nasional. Dan seperti banyak peristiwa publik lainnya, yang tertinggal bukan hanya dokumentasi resmi, melainkan kesan—tentang jalanan yang padat, tangan-tangan yang terulur, dan suasana kota yang, untuk beberapa jam, terasa berbeda.