Jelang Lebaran, Pemprov Jateng Gencarkan Gerakan Pangan Murah untuk Tekan Harga Bahan Pokok

Jelang Lebaran, Pemprov Jateng Gencarkan Gerakan Pangan Murah untuk Tekan Harga Bahan Pokok

beritaku24.com – Menjelang Lebaran, satu hal yang hampir pasti terjadi: harga bahan pokok pelan-pelan merangkak naik. Kadang terasa, kadang baru sadar setelah belanja dua kantong lebih sedikit dari biasanya.

Di Jawa Tengah, pemerintah provinsi tampaknya tak mau menunggu harga benar-benar melonjak. Pemprov Jateng memperluas gerakan pangan murah di sejumlah daerah. Skalanya di perbesar. Titiknya di tambah. Waktunya di majukan sebelum tekanan permintaan makin terasa.

Di lapangan, konsepnya sederhana. Beras, minyak goreng, gula, telur—komoditas yang hampir selalu ada di daftar belanja rumah tangga—di jual dengan harga di bawah pasaran. Selisihnya mungkin tak fantastis, tapi cukup terasa bagi warga yang menghitung pengeluaran harian dengan cermat.

Program ini bukan sekadar bagi-bagi sembako murah. Ada konteks yang lebih besar: pengendalian inflasi dan stabilisasi harga. Setiap menjelang hari raya, permintaan melonjak. Rumah tangga memasak lebih banyak. Pelaku usaha kecil ikut menambah stok bahan. Permintaan naik, harga ikut terdorong.

Pemerintah daerah membaca pola itu. Dan memilih turun tangan.

Perwakilan Pemprov Jateng menyebut intervensi melalui pasar murah di nilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Terutama kelompok yang paling terdampak jika harga bergerak terlalu cepat. Sebab ketika harga naik, yang paling dulu merasakan biasanya bukan pedagang besar, melainkan ibu-ibu di pasar yang harus menyesuaikan belanja harian.

Kerja sama pun di lakukan dengan distributor dan instansi terkait agar pasokan tetap tersedia selama kegiatan berlangsung. Jangan sampai pasar murah justru kehabisan barang di tengah antrean. Itu yang di hindari.

Pelaksanaannya bertahap. Tidak serentak di semua wilayah, tapi menyasar titik-titik yang dinilai membutuhkan. Beberapa lokasi terlihat di padati warga. Antusiasme cukup tinggi. Wajar saja, selisih harga seribu-dua ribu rupiah per komoditas, jika di kalikan beberapa kebutuhan, bisa berarti banyak.

Namun upaya ini tidak berhenti di lokasi pasar murah saja. Pemprov juga mengaku terus memantau pergerakan harga di pasar tradisional. Grafiknya di awasi. Jika ada lonjakan yang tidak wajar, langkah antisipasi bisa di siapkan lebih awal.

Karena yang di jaga bukan cuma stok, tapi juga psikologi pasar. Ketika harga stabil, kepanikan bisa di tekan. Ketika kepanikan reda, lonjakan ekstrem lebih mudah di hindari.

Gerakan pangan murah ini di sebut akan terus di gencarkan hingga mendekati Lebaran. Pemerintah berharap, setidaknya, beban masyarakat sedikit lebih ringan saat kebutuhan meningkat.

Lebaran memang soal silaturahmi dan kebersamaan. Tapi sebelum sampai ke sana, ada urusan dapur yang tak bisa di abaikan. Dan di situlah kebijakan seperti ini di uji—bukan di atas kertas, melainkan di kantong belanja warga.