beritaku24 — Perubahan sosial dan tekanan global terus menekan ruang hidup budaya lokal. Dalam situasi seperti ini, suara lama kembali terdengar: pelibatan perempuan dalam pelestarian budaya tak bisa lagi di abaikan.
Pemerintah mulai sadar, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam urusan budaya. Mereka ada di garis depan—di rumah, di komunitas, dalam ritual, bahkan dalam dapur kecil yang melahirkan rasa dan cerita.
Lestari, Deputi Bidang Kebudayaan di Kemendikbudristek, bicara soal ini pekan lalu. Di kantornya, ia menyebut bahwa selama ini perempuan telah banyak berperan di tingkat akar rumput. Ada yang jadi pelaku seni tradisi. Ada yang memegang teguh ritual adat. Ada pula yang menyimpan pengetahuan budaya yang di wariskan secara turun-temurun.
Tapi mereka bekerja sendiri-sendiri, katanya. Tanpa banyak sokongan. Kebijakan belum berpihak. Akses ke pelatihan, dana, dan pengakuan masih timpang.
Lestari menyebut perempuan kerap jadi jembatan utama dalam meneruskan budaya—terutama di ranah domestik. Lewat bahasa ibu. Lagu daerah yang di dendangkan saat menidurkan anak. Masakan warisan nenek. Semua itu bagian dari pewarisan yang nyaris tak tercatat.
Dalam ekonomi budaya pun peran perempuan menonjol. Kerajinan tangan. Kuliner khas daerah. Kegiatan yang seringkali di jalankan dalam skala kecil namun punya dampak besar ke ketahanan ekonomi lokal.
Masalahnya, tak banyak ruang bagi mereka untuk berkembang. Tanpa dukungan, potensi ini bisa tenggelam.
“Penting ada pelatihan, pendampingan, juga dana yang bisa di akses,” ujar Lestari. Menurutnya, itu bukan hanya soal pemberdayaan. Tapi soal keberlangsungan budaya itu sendiri.
Di tengah gempuran modernisasi, pelestarian budaya jadi pekerjaan yang semakin pelik. Banyak nilai dan praktik yang hilang pelan-pelan. Di sinilah pelibatan perempuan bisa jadi kunci. Bukan karena mereka istimewa, tapi karena mereka selama ini sudah melakukannya—tanpa sorotan.
