beritaku24.com – Lahan di TPU Kebon Nanas mulai berubah wajah. Rapi belum. Tapi setidaknya sekarang udah jauh dari kata semrawut. Progres penataan di klaim udah tembus 60 persen. Masih terus jalan.
Kalau mampir ke sana hari ini, bakal kelihatan deretan bidang makam mulai tertata, jalan setapak di perlebar, akses masuk di bersihkan. Ya, belum semuanya. Tapi sudah beda. Dulu, banyak jalur yang becek dan makam saling bertumpuk. Sekarang mulai di susun ulang.
Dinas Pertamanan dan pihak pelaksana proyek kerja bareng ngebut di lapangan. Mereka bilang ini bukan sekadar soal “bikin kelihatan bagus”. Tapi soal fungsi. Soal rasa hormat juga. Karena bagaimana pun, tempat pemakaman itu bukan cuma urusan fasilitas. Itu tempat orang datang buat kenang, buat doa.
Dan memang, TPU Kebon Nanas bukan TPU kecil. Lokasinya sering jadi pilihan utama warga dari beberapa kecamatan. Kepadatan? Udah pasti. Maka itu, pembenahan yang sekarang di lakukan enggak main-main.
Enggak cuma makamnya. Pemerintah juga lagi ngerjain infrastruktur pendukung. Jalan di perkeras, drainase di perbaiki, pemetaan lokasi di perjelas. Tujuannya jelas: biar keluarga yang datang nggak nyasar, nggak basah kaki, nggak kebingungan cari posisi pusara.
Soal pembebasan lahan, kata mereka, sebagian besar sudah beres. Sisanya tinggal pemolesan teknis dan penguatan struktur di beberapa titik. Yang penting: proyek nggak mandek. Tetap gerak, meski pelan.
“Masih terus di pantau,” begitu pernyataan singkat dari pihak berwenang. Artinya, semua belum boleh lengah. Proyek pemakaman bukan proyek biasa. Salah kelola sedikit, dampaknya bisa panjang—bukan cuma teknis, tapi juga emosional buat keluarga yang datang.
Pemerintah daerah janji, kalau semua selesai, TPU Kebon Nanas bakal lebih tertib dan lebih manusiawi. Bukan cuma tempat peristirahatan terakhir, tapi juga tempat yang layak untuk diingat dan di datangi.
Untuk sekarang? Ya, sabar dulu. 60 persen itu belum akhir. Tapi sudah bukan awal.
