beritaku24.com – Di banyak pabrik, kantor, sampai proyek konstruksi—peluit keselamatan mungkin sudah biasa. Spanduk bertuliskan “Utamakan K3” juga banyak. Tapi Menteri Ketenagakerjaan belum puas. Karena, katanya, budaya keselamatan kerja bukan soal stiker tempel. Itu harus benar-benar hidup. Di jalankan. Di rasakan. Di internalisasi.
“K3 itu bukan hiasan,” ujar sang Menteri. Ia bicara lantang dalam salah satu forum ketenagakerjaan baru-baru ini. Yang di maksud tentu saja budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja—K3—yang ia tekankan harus jadi prioritas nyata di dunia industri.
Bukan hanya demi menuruti aturan. Tapi demi melindungi nyawa. Demi menjaga kesehatan. Demi memastikan pekerja pulang dengan tubuh utuh, tanpa luka, tanpa trauma.
Dan ini bukan hanya tugas atasan. Bukan juga cuma soal audit tahunan. Ia menyebut bahwa seluruh ekosistem kerja—dari manajemen puncak sampai petugas kebersihan—harus merasa punya tanggung jawab soal ini.
Pemerintah, melalui Kemenaker, mengklaim terus bergerak. Lewat regulasi yang di perkuat. Lewat pelatihan, inspeksi, sampai kampanye. Tapi, lagi-lagi, semua itu hanya akan jadi checklist kalau pelakunya tidak benar-benar paham untuk apa.
“K3 bukan beban. Tapi investasi,” tegasnya.
Karena kecelakaan kerja tidak hanya makan korban jiwa. Tapi juga bikin perusahaan rugi. Produksi terganggu. Nama baik tercoreng. Belum lagi rasa takut yang bisa menyebar di antara para pekerja lain.
Salah satu fokus Menaker ke depan adalah memperluas pelatihan K3. Tidak cuma di industri besar, tapi juga UMKM, tempat kerja informal, sektor yang kadang luput dari sorotan. Semua harus tahu hak dan prosedur dasar: pakai alat pelindung diri, tanggap darurat, deteksi risiko.
Ia juga mendorong dunia usaha untuk lebih proaktif. Jangan tunggu di tegur. Jangan nunggu viral. Mulai dari yang kecil. Dari budaya saling jaga.
Karena menurutnya, tempat kerja yang aman bukan hanya tempat kerja yang mematuhi hukum. Tapi tempat kerja yang peduli. Yang melihat keselamatan sebagai bagian dari etika, bukan sekadar kewajiban.
Kalau itu bisa tercapai—K3 bukan hanya hidup di papan pengumuman, tapi juga di keseharian lapangan—barulah kita bicara tentang pertumbuhan yang sehat. Dan manusiawi.
